Senin, 10 Juni 2013

DAMPAK KEBIJAKAN MONETER



DAMPAK KEBIJAKAN MONETER TERHADAP
PERFORMANCE MAKRO EKONOMI INDONESIA
(Sebelum Dan Pasca Krisis Ekonomi)


  1. A.     PENDAHULUAN

Indonesia telah membuat perubahan fundamental dalam kebijakan moneternya seiring dengan dikeluarkannya UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Pertama, kebijakan moneter kini difokuskan untuk memelihara dan menjaga stabilitas rupiah. Kedua, pemberian independensi yang lebih besar kepada Bank Indonesia dalam menentukan target inflasi dan arah kebijakan moneternya. Ketiga, keputusan pemilihan kebijakan diserahkan pada Gubernur Bank Indonesia tanpa intervensi dari pemerintah dan lembaga lain. Empat, adanya akuntabilitas dan transparansi kebijakan
moneter yang mewajibkan Bank Indonesia mengumumkan target inflasi dan rencana kebijakan moneter pada setiap permulaan tahun. Semua reformasi tersebut diharapkan mampu untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis (Warjiyo dan Agung, 2002).
Pada perkembangan teoritis terdapat pula dua aliran makroekonomi baru yang memperdebatkan permasalahan dampak kebijakan moneter, yaitu New Classical dan New Keynesian. New Classical berpendapat bahwa kebijakan moneter hanya akan memiliki dampak jika kebijakan tersebut tidak diantisipasi oleh masyarakat.
Bank Indonesia mendefinisikan Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan sebuah kerangka kebijakan moneter yang ditandai dengan pengumuman kepada publik mengenai target inflasi yang hendak dicapai dalam beberapa periode ke depan. ITF bukanlah suatu kaidah yang kaku (rule) tetapi sebagai kerangka kerja menyeluruh (framework) untuk perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter. Sesuai definisi di atas, sejak berlakunya UU No. 23/1999 Indonesia sebenarnya Indonesia dapat dikategorikan sebagai “Inflation Targeting lite countries”.

B. HASIL PENELITIAN

a. Perekonomian Indonesia Sebelum dan Pasca Krisis
1. Output, Konsumsi, Investasi dan Pengeluaran Pemerintah
Apabila dilihat dari pertumbuhan GDPnya perekonomian Indonesia sejak tahun 1970an hingga 1990an mengali kondisi yang pasang surut. Pada tahun 1971 merupakan kondisi menurunnya laju pertumbuhan perekonomian Indonesia. Namun sejak tahun 1972 hingga perekonomian berhasil didongkrak kembali sampai pada level yang cukup tinggi, namun kondisi tersebut tidak bertahan lama karena pertumbuhan ekonomi kembali menurun cukup tajam pada tahun1978. Kemudian pada tahun 1983 berhasil kembali dinaikkan dan kondisi pertumbuhan ekonomi periode 1984 hingga 1996 relatif stabil, bahkan pada tahun awal 1997 sempat mengalami kenaikan cukup tinggi, sebelum akhirnya jatuh pda tahun 1998 akibat krisis moneter yang melanda negeri kita sehingga mengharuskan resim orde baru berakhir.

2. Output, Employment, dan Unemployment
Dalam bagian ini akan dipaparkan bagaimana pergerakan output (GDP) yang
dihubungkan dengan pergerakan tenaga kerja yang hal ini akan diwakili oleh pergerakan kurva pekerja dan tingkat pengangguran selama periode 1985 hingga 2000. Fluktuasi pergerakan kurva GDP cenderung berjalan sendiri-sendiri dengan pergerakan tenaga kerja. Hal ini terlihat bahwa selama periode tersebut menunjukkan bahwa pergerakan GDP cenderung fluktuatif, sementara pergerakan tenaga kerja cenderung konstan dan sedikit menurun.

b. Performance Perekonomian Masa Pemulihan
Laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan dapat mencapai 5% dalam tahun 2004 yang disertai dengan membaiknya inflasi dan menguatnya kepercayaan masyarakat. Yang menggembirakan pula selama tiga kuartal pertama investasi tumbuh sebesar 11,3 % dimana pertumbuhannya terjadi merata dalam semua komponen. Kinerja perbankan dan pasar modal membaik di lihat dari semua indikator. Setelah hampir lima tahun proses pemulihan ekonomi, terlihat pula gejala yang kurang menggembirakan. Pemulihan ekonomi tampaknya belum diikuti dengan penciptaan kesempatan kerja yang memadai. Gejala jobless recovery tampaknya terjadi selama masa pemulihan ekonomi ini terutama terjadi dalam sektor formal. Akibatnya tingkat pengangguran meningkat secara signifikan dibandingkan sebelum krisis ekonomi.

1. Output dan pengeluaran Aggregat
Laju pertumbuhan ekonomi secara bertahap mengalami akselerasi dari minus 14 pada kuartal III/1998 secara perlahan meningkat mendekati 5% pada kuartal III/2004. Gambaran lebih impresif terlihat pada perkembangan pertumbuhan ekonomi Produk Domestik Bruto non migas yang telah mampu tumbuh di atas 5% yaitu 5,7 pada selama tiga kuartal tahun 2004. Dengan menggunakan harga konstan yang sama (1993 atau 2000), Nilai PDB tahun 2004 telah melewati PDB tahun 1997, seperti yang bisa kita lihat pada tabel di bawah ini.


Tabel 1
Laju Pertumbuhan Permintaan Aggregat Berdasarkan Harga Konstan 2000
NO
Indikator ekonomi
Tahun
2002
2003
2004*)
A
Peramintaan Domestik
3.5
3.1
6.8
B
Peramintaan Domestik Tanpa Perubahan stok
4.2
3.9
6.5
1. konsumen masyarakat
3.8
3.9
5.3
2. konsumen pemerintahan
13.0
10.0
3.8
3. pembentukan modal Tetap
2.2
1.9
11.3
C
Permintaan Ekternal
8.9
17.7
-301
4. Ekspor
-10
6.6
8.3
5. Impor
-40
2.8
24.2
6. PDB
4.3
4.5
4.9
Dari tabel di atas bisa kita lihat bahwa, secara umum peningkatan ini didorong oleh peningkatan permintaan aggregat domestik yang meningkat sangat impresif yang tumbuh hingga 9.5 % selama tiga kuartal pertama tahun 2004. Peningkatan permintaan domestik ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertama, konsumsi, khususnya konsumsi bukan makanan terus mengalami peningkatan yang sebagian didorong oleh kredit konsumsi. Kedua, adalah peningkatan investasi yang terjadi merata pada semua komponen investasi. Peningkatan ini terefleksikan dalam peningkatan persetujuan investasi dan peningkatan impor barang modal. Sehingga hasilnya selama tiga kuartal ini investasi meningkat sebesar 11,3 % dibandingkan periode yang sama tahun 2003. Dari sisi produksi, pertumbuhan dalam sektor jasa khususnya sektor konstruksi, perdagangan, transportasi dan komunikasi telah menyumbang dalam pertumbuhan PDB setelah sektor manufaktur. Peningkatan sektor tersebut umumnya didorong oleh peningkatan permintaan domestik baik yang bersifat konsumsi (berkaitan dengan sektor perdagangan dan telekomunikasi serta keuangan), investasi (khusus sebagian industri manufaktur) dan peningkatan permintaan eksternal pada komoditi perkebunan, kertas dan barang elektronika, untuk selengkapnya bisa terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2
Laju Pertumbuhan PDRB Sektoral Tahun 2002-2004
No
Sektor Ekonomi
Tahun
2002
2003
2004
1
Pertanian
2.8
3.1
3.2
2
Pertambangan
0.4
-16
-55
3
Migas
-30
-48
3.4
4
Manufaktur
5.9
5.0
5.6
5
Non Migas
6.4
5.4
6.4
6
Listrik, Gas dan Air Bersih
7.5
5.9
4.6
7
Kontruksi
5.2
6.3
8.1
8
Perdagangan Hotel dan Lestoran
3.9
5.3
8.0
9
Transportasi dan Komunikasi
8.4
11.6
13.6
10
Keuangan
5.5
6.9
5.4
11
Jasa lainnya
3.2
4.1
4.7
Sektor pertanian mengalami pertumbuhan sedikit di atas trend normal yang didorong oleh peningkatan dalam produksi pangan. Beberapa sub sektor dalam sektor pertanian masih mempunyai potensi untuk berkembang khususnya untuk tanaman bukan pangan, peternakan dan perkebunan. Berdasarkan uraian di atas dan sejumlah data pendukung, menunjukkan bahwa pergerakan laju pertumbuhan ekonomi atau output nasional banyak dipengaruhi oleh pergerakan investasi dan konsumsi baik dalam negeri maupun nilai ekspor.
2. Inflasi, Suku Bunga dan Nilai Tukar Rupiah
Secara keseluruhan rata-rata suku bunga SBI dalam tahun 2004 diperkirakan pada rentang 7,3 – 7,5 persen. Kecenderungan penurunan suku bunga SBI tersebut telah mendorong penurunan suku bunga perbankan khususnya suku bunga kredit walaupun belum seperti yang diharapkan. Diharapkan suku bunga kredit akan menurun lagi mengingat ruang penyesuaian masih tersedia. Nilai tukar rupiah cenderung mengalami tekanan pada pertengahan 2004, namun kembali bergerak relatif stabil menjelang akhir tahun. Rata-rata rupiah Januari- November mencapai Rp8.911 per dolar AS atau terdepresiasi 3,69% dibanding nilai tukar rata-rata pada 2003. Tekanan tersebut pertama kali dipicu oleh dampak rambatan (spill-over effect) dari faktor eksternal terkait dengan ekspektasi pasar terhadap siklus pengetatan (tightening cycle) ekonomi AS. Ditengah meningkatnya kebutuhan BUMN dan korporat untuk impor dan pembayaran utang, sementara pasokan relatif terbatas mendorong timbulnya perilaku ikutan oleh pelaku pasar domestik (bandwagon effect).







C. KESIMPULAN
Pemilihan indikator utama inflasi penting bagi penetapan kebijakan target inflasi. Pemilihan variabel utama inflasi dapat dilihat dari besarnya pengaruh terhadap inflasi, kuat atau lemahnya respon inflasi terhadap kebijakan tersebut dan seberapa lama kebijakan tersebut efektif mempengaruhi inflasi. Hal lain tentunya yang menjadi perhatian adalah efek kausalitas, aksi dan reaksi variabel kebijakan terhadap variabel sasaran. Dari kriteria diatas maka variabel output gap dan pertumbuhan nilai tukar riil dapat dijadikan leading indicator inflasi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Affandi, Yoga, 2002, “The Optimal Monetary Policy Instrument: The Case of
Indonesia,” Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Vol. 5, No.3.
  1. Boivin, Jean and Marc Giannoni, 2002, “Assessing Changes in the Monetary Transmission    Mechanism: A VAR Approach,” Economic Policy Review FRBNY, May.
Brue, Stanley L., 1994, The Evolution of Economic Thought, The Dryden Press, Orlando.
  1. Christiano, Lawrence J., dan Martin Eichenbaum, 1991, “Identification and the Liquidity
Effect of a Monetary Policy Shock,” NBER Working Paper, No. 3920.
  1. Clarida, Richard, Jordi Gali, and Mark Getler, 1999, “The Science of Monetary Policy:
New Keynesian Perspective,” Journal of Economic Literat

sumber:http://zain99.wordpress.com/dampak-kebijakan-moneter/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar